Bandung – Selama ini, mobil listrik di Indonesia didominasi produk China dan Korea (Wuling, Hyundai, BYD). Harganya masih mahal (Rp 300 juta ke atas) dan infrastruktur charging terbatas. Di 2026, konsorsium nasional yang terdiri dari ITB, PT Pindad (BUMN), PT INKA (industri kereta api), dan Pertamina meluncurkan MOLINA E3 (Mobil Listrik Nasional generasi ketiga). Mobil ini dirancang khusus untuk kondisi jalan Indonesia (lubang, banjir) dan dilengkapi teknologi baterai swapping (tukar baterai) yang bisa dilakukan di 5.000 SPBU Pertamina dalam waktu 3 menit.
Spesifikasi MOLINA E3: motor listrik 120 kW (setara 160 HP), kecepatan maksimal 150 km/jam, jarak tempuh 400 km dengan sekali cas (baterai 60 kWh). Yang membuatnya unik: baterai tidak permanen, tapi bisa dilepas seperti koper. Bentuk baterai adalah kotak beroda kecil seberat 80 kg. Pemilik mobil cukup memarkir di SPBU yang memiliki stasiun swapping (mirip mesin ATM), mesin akan menarik baterai kosong dari bawah mobil dan memasukkan baterai penuh dalam 180 detik. Biaya swapping sekitar Rp 250.000 per baterai penuh (setara Rp 625 per km, lebih murah dari bensin Rp 1.200 per km). Harga mobil tanpa baterai hanya Rp 150 juta, plus sewa baterai Rp 500.000 per bulan.
“Saya sudah beli MOLINA E3. Saya tidak perlu repot charge di rumah karena dekat SPBU ada swapping. 3 menit jadi, lebih cepat dari isi bensin. Baterainya saya sewa, jadi tidak khawatir baterai rusak. Mobilnya juga tangguh, saya bawa ke jalan berbatu di Ciwidey aman,” kata Wisnu, pengguna pertama. MOLINA E3 diproduksi di pabrik Pindad Bandung dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 60% (baterai masih impor, tapi sisanya lokal).
Tantangannya adalah infrastruktur swapping. Pertamina menargetkan 5.000 SPBU swapping di Jawa, Sumatera, dan Bali pada akhir 2026. Juga, baterai swapping membutuhkan standarisasi: semua mobil listrik nasional harus menggunakan dimensi dan konektor baterai yang sama. Pemerintah telah mengeluarkan Perpres tentang Standar Baterai Nasional. Ke depannya, MOLINA E4 akan diproduksi dengan baterai buatan PT. Industri Baterai Indonesia (IBC) di Karawang. Karena masa depan transportasi Indonesia adalah listrik, dan listrik itu harus buatan sendiri.