Kontroversi seputar dampak lingkungan peternakan konvensional yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar, menggunakan lahan yang luas, dan membutuhkan air yang sangat banyak telah mendorong pencarian sumber protein alternatif yang lebih berkelanjutan. Daging kultur jaringan atau daging yang ditumbuhkan di laboratorium dari sel hewan tanpa perlu memelihara dan menyembelih hewan utuh menawarkan solusi yang menjanjikan, dengan klaim mampu mengurangi dampak lingkungan hingga sembilan puluh persen dibandingkan peternakan tradisional. Artikel ini akan menjelajahi proses ilmiah di balik produksi daging kultur, mulai dari pengambilan sampel sel, proses proliferasi dalam bioreaktor, hingga tahap pematangan yang membentuk tekstur seperti daging asli. Lebih jauh, artikel ini juga akan membahas tantangan terbesar yang masih dihadapi industri ini yaitu biaya produksi yang masih sangat tinggi dan bagaimana para ilmuwan serta insinyur berlomba-lomba menemukan cara untuk menekan biaya agar produk ini bisa bersaing dengan daging konvensional di pasar massal.
Related Posts
Membangun Kembali Sistem Riset dan Pengembangan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) Berbasis Kekayaan Hayati Laut: Ekspedisi Bio-Prospecting ke 50 Pulau Terpencil di Kawasan Segitiga Terumbu Karang untuk Mengoleksi, Mengidentifikasi, dan Menapis 5.000 Ekstrak Spons, Karang Lunak, dan Tunikata sebagai Kandidat Antibiotik Baru, Antikanker, dan Anti-Inflamasi
- admin
- Februari 12, 2026
- 1 min read
- 0
Globalisasi, Reformasi, Transformasi, Teknologi Informasi dan Perannya dalam Dunia Bisnis Digital
- admin
- Januari 13, 2026
- 2 min read
- 0