Indonesia adalah pusat keanekaragaman hayati laut dunia, namun potensi biofarmasinya belum dieksplorasi secara sistematis. Spons, karang lunak, dan tunikata dari perairan timur Indonesia menyimpan senyawa bioaktif unik yang tidak ditemukan di tempat lain, hasil evolusi jutaan tahun dalam lingkungan dengan tekanan predasi tinggi. Proyek ini meluncurkan ekspedisi bio-prospecting kelautan terbesar dalam sejarah Indonesia: 50 pulau terpencil di Raja Ampat, Wakatobi, Selayar, Alor, Maluku, dan Papua selama 5 tahun. Tim ilmuwan dari BRIN, universitas, dan peneliti muda menyelam, mengambil sampel dengan metode non-destruktif (fragmen kecil), mengekstrak, dan menapis aktivitas biologisnya terhadap bakteri multiresisten (MRSA, ESBL), sel kanker payudara dan serviks, serta enzim inflamasi (COX-2, 5-LOX). Ekstrak potensial difraksinasi, diidentifikasi struktur kimianya dengan NMR dan LC-MS, kemudian dipatenkan. Kandidat obat dengan aktivitas menjanjikan dikembangkan lebih lanjut melalui uji praklinis pada hewan dan uji toksisitas. KKP bersama BRIN, Kemenkes, dan industri farmasi nasional mengalokasikan pendanaan jangka panjang 15 tahun. Target: 5 kandidat obat baru masuk uji klinis fase 1 pada 2035.
Related Posts
Perbandingan Personalized Medicine vs Personalized Medicine: Mana yang Tepat? 2026-2027
- admin
- Maret 29, 2026
- 5 min read
- 0
Perbandingan mRNA Therapeutics vs mRNA Therapeutics: Mana yang Tepat? 2026-2027
- admin
- Februari 24, 2026
- 5 min read
- 0
Teknologi Pertambangan Ramah Lingkungan (Green Mining Tech): Pengawasan Real-Time dan Reklamasi Otomatis
- admin
- Februari 5, 2026
- 1 min read
- 0