Kontaminasi Salmonella pada telur menjadi perhatian keamanan pangan global. Metode deteksi kultur membutuhkan waktu 3-5 hari. Biosensor berbasis aptamer (DNA/RNA sintetik) dan nanopartikel emas menawarkan deteksi cepat dalam hitungan menit. Peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan biosensor dengan aptamer spesifik Salmonella yang dilabel nanopartikel emas. Dalam kondisi normal, nanopartikel emas stabil dan berwarna merah. Ketika aptamer mengikat sel Salmonella, terjadi agregasi nanopartikel dan warna berubah menjadi biru atau ungu. Sampel usap kulit telur atau isi telur dicampur dengan larutan biosensor, diinkubasi 10-15 menit, dan perubahan warna diamati secara visual atau dengan pembaca sederhana. Prototipe memiliki sensitivitas 10²-10³ CFU/ml, cukup untuk deteksi kontaminasi dini. Metode ini sederhana, cepat, dan dapat digunakan peternak untuk skrining rutin sebelum telur didistribusikan ke pasar.
Related Posts
Sukses Story: Adopsi Digital Biomarkers untuk Transformasi Digital 2026-2027
- admin
- Maret 10, 2026
- 4 min read
- 0
Cara Implementasi CRISPR Gene Editing untuk Bisnis Indonesia 2026-2027
- admin
- Maret 21, 2026
- 4 min read
- 0
Museum Tanpa Dinding: Pengembangan Jaringan Museum Virtual Nusantara Berbasis Teknologi Fotogrametri Skala Besar dan Antarmuka Web 3D untuk Mendigitalisasi, Melestarikan, dan Membagikan Koleksi Artefak, Manuskrip, dan Karya Seni dari 300+ Museum di Seluruh Indonesia kepada Dunia
- admin
- Februari 12, 2026
- 4 min read
- 0