Pelabuhan adalah urat nadi perdagangan Indonesia. Lebih dari 90% perdagangan internasional kita melalui laut. Namun, produktivitas pelabuhan Indonesia tertinggal jauh dibandingkan pelabuhan regional seperti Singapura dan Port Klang. Waktu bongkar muat (dwelling time) di Tanjung Priok masih berkisar 3-7 hari, sementara di Singapura hanya 1 hari. Salah satu penyebabnya adalah tingkat otomatisasi yang rendah. Di pelabuhan-pelabuhan maju, straddle carrier (kendaraan pengangkut peti kemas di dalam terminal) sudah otonom. Mereka bergerak seperti kawanan semut yang terkoordinasi, mengangkat dan memindahkan kontainer dari dermaga ke lapangan penumpukan dengan presisi sentimeter. Di Indonesia, straddle carrier masih dikemudikan manusia. Operator bekerja 12 jam shift, di bawah terik matahari, dengan risiko kecelakaan tinggi. Akibatnya, kecepatan siklus rendah, antrean truk panjang, dan biaya logistik mahal.
Visi Proyek SMART-PORT adalah mengembangkan ekosistem kendaraan otonom khusus untuk terminal peti kemas, yang dirancang dan diproduksi secara lokal, serta sistem manajemen terminal (Terminal Operating System/TOS) cerdas yang mengoordinasikan pergerakan mereka secara real-time.
Komponen 1: Autonomous Straddle Carrier (ASC). Straddle carrier adalah kendaraan raksasa (berat 50-70 ton) yang dapat “menunggangi” setumpuk kontainer dan mengangkatnya. SMART-PORT mengembangkan ASC dengan spesifikasi:
- Sistem persepsi 360°: LiDAR, radar, kamera stereo, dan GNSS RTK (akurasi 2-5 cm).
- Sistem navigasi berbasis peta 3D terminal yang diperbarui secara real-time.
- Kecerdasan lokal untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain, pekerja, dan infrastruktur.
- Propulsi diesel-elektrik hybrid untuk mengurangi emisi dan kebisingan.
ASC dapat beroperasi 24/7, tidak perlu istirahat, tidak perlu lembur.
Komponen 2: Automated Guided Vehicle (AGV) untuk Horizontal Transport. AGV adalah kendaraan datar yang membawa kontainer dari dermaga ke lapangan penumpukan. Berbeda dengan ASC yang bisa mengangkat sendiri, AGV harus dipasangi/dilepasi kontainer oleh quay crane atau stacking crane. SMART-PORT mengembangkan AGV dengan:
- Sistem inductive charging di lintasan tetap.
- Platooning: beberapa AGV dapat bergerak dalam formasi rapat (jarak 1-2 meter) untuk menghemat ruang jalan.
- Bateral lithium dengan waktu operasi 12-16 jam.
Komponen 3: Sistem Manajemen Terminal (TOS) Cerdas. TOS adalah otak dari seluruh operasi terminal. TOS konvensional hanya menjadwalkan berdasarkan aturan tetap (first-in-first-out). TOS cerdas SMART-PORT menggunakan algoritma optimasi real-time:
- Penjadwalan dinamis: prioritas diberikan kepada kapal dengan waktu sandar terbatas, kontainer ekspor yang harus segera dimuat, atau kontainer impor yang sudah menunggu lama.
- Alokasi ruang penumpukan: kontainer ditempatkan di blok yang paling dekat dengan posisi kapal dan moda transportasi lanjutan (truk, kereta).
- Koordinasi multi-agen: ribuan ASC dan AGV bergerak dalam orkestra tanpa tabrakan, tanpa kemacetan internal.
Komponen 4: Simulator dan Pelatihan. Transisi dari terminal konvensional ke terminal otomatis tidak mudah. Operator straddle carrier yang sudah puluhan tahun bekerja akan khawatir kehilangan pekerjaan. SMART-PORT mengembangkan:
- Simulator realitas virtual untuk melatih operator menjadi supervisor armada. Mereka tidak lagi mengemudi, tetapi memantau dan mengendalikan 10-20 ASC dari ruang kontrol ber-AC.
- Program reskilling: operator senior dilatih menjadi teknisi pemeliharaan ASC dan AGV.
Dampak SMART-PORT bersifat ekonomi dan sosial. Dampak produktivitas: peningkatan throughput terminal 30-50% dengan luas lahan yang sama. Dampak biaya logistik: pengurangan dwelling time dari 5 hari menjadi 2-3 hari, menghemat biaya inap kontainer dan mempercepat arus barang. Dampak keselamatan: mengurangi kecelakaan kerja akibat kelelahan operator. Dampak industri: Indonesia memiliki kapasitas manufaktur peralatan pelabuhan sendiri, tidak perlu impor dari Jerman atau China. Dampak tenaga kerja: bukan pengurangan lapangan kerja, tetapi peningkatan kualitas pekerjaan. Operator tidak lagi bekerja di lingkungan berdebu, bising, dan berbahaya. SMART-PORT adalah masa depan logistik Indonesia, di mana kontainer bergerak sendiri dengan cerdas, seperti robot-robot di film fiksi ilmiah, tetapi ini nyata dan akan dibangun oleh anak bangsa.