Limbah kulit singkong dari industri keripik dan tapioka sangat melimpah dan berpotensi sebagai bahan baku bioetanol. Kulit singkong mengandung pati 50-60 persen berat kering. Proses konversi melalui dua tahap: hidrolisis pati menjadi gula sederhana, kemudian fermentasi gula menjadi etanol. Peneliti Universitas Lampung mengoptimasi hidrolisis menggunakan enzim alfa-amilase dan glukoamilase pada konsentrasi dan waktu optimal, menghasilkan larutan gula dengan konsentrasi 80-100 g/L. Fermentasi dengan ragi Saccharomyces cerevisiae selama 48-72 jam menghasilkan etanol dengan kadar 4-5 persen (v/v). Distilasi sederhana dapat memekatkan etanol hingga 70-80 persen. Produk bioetanol ini dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor atau campuran bahan bakar kendaraan setelah pemurnian lebih lanjut. Ini solusi pengelolaan limbah sekaligus energi alternatif terbarukan.
Related Posts
🎓 Tutorial Praktis: E-commerce Transformation – Cara Menggunakan dengan Efektif
- admin
- Februari 5, 2026
- 2 min read
- 0
Studi Kasus: Implementasi Digital Biomarkers di Perusahaan Indonesia 2026-2027
- admin
- April 4, 2026
- 5 min read
- 0