Subliminal Tech: Desain Produk yang Memanfaatkan Stimuli Bawah Sadar untuk Perilaku Positif – Etiskah?

Bidang subliminal design atau calm technology berkembang dengan premis bahwa teknologi paling efektif saat bekerja di tepi kesadaran kita, memberikan informasi atau dorongan halus tanpa mengganggu fokus. Namun, garis antara “calm technology” dan manipulasi subliminal yang tidak etis sangat tipis. Bagaimana jika sebuah aplikasi fintech menggunakan pola warna tertentu yang terbukti meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan investasi? Atau jika sebuah platform belajar menggunakan suara latar (binaural beats) yang diselipkan untuk meningkatkan konsentrasi tanpa sepengetahuan pengguna? Di mana batas etika ketika teknologi mulai membentuk perilaku kita di bawah radar kesadaran?

Prinsip calm technology yang sah, diperkenalkan oleh Mark Weiser dan John Seely Brown, bertujuan untuk “menginformasikan tanpa mengganggu”. Contohnya adalah lampu Ambient Orb yang berubah warna berdasarkan data saham, atau progress bar yang memberikan sinyal tanpa membutuhkan perhatian penuh. Namun, teknik baru mulai menjelajahi modalitas sensorik yang lebih dalam. Penelitian menunjukkan bahwa getaran haptic dengan pola tertentu dapat mengurangi kecemasan, atau paparan flash visual subliminal (terlalu cepat untuk disadari) dapat mempengaruhi preferensi.

Startup Neosensory mengembangkan “buzzband” yang menerjemahkan data (seperti kualitas udara atau aktivitas pasar saham) menjadi pola getaran pada pergelangan tangan, melatih otak untuk memahami informasi kompleks secara bawah sadar. Ini adalah contoh positif. Namun, skenario negatifnya mudah dibayangkan: sebuah aplikasi e-commerce yang secara subliminal meningkatkan dorongan impuls buying dengan stimulus visual tersembunyi di antara gambar produk.

Tantangan etika ini membutuhkan framework desain yang transparan. Prinsip-prinsip yang mungkin diperlukan:

  1. Informed Subliminality: Pengguna harus diberi tahu bahwa produk menggunakan teknik subliminal untuk tujuan tertentu (misalnya, “Aplikasi ini menggunakan pola suara frekuensi rendah untuk membantu relaksasi”) dan dapat mematikannya.
  2. Beneficence Check: Stimuli harus dirancang untuk kebaikan pengguna (well-being, produktivitas, pembelajaran), bukan semata-mata untuk keuntungan bisnis (meningkatkan waktu screen time atau pembelian).
  3. Audit External: Desain subliminal harus dapat diaudit oleh pihak ketiga (ahli neurosains atau etika) untuk memastikan tidak ada manipulasi berbahaya.

Untuk startup, ini adalah area yang penuh ranjau tetapi juga peluang. Produk yang secara etis membantu pengguna mencapai tujuan mereka—seperti aplikasi meditasi yang menggunakan stimulus bawah sadar untuk memperdalam relaksasi, atau aplikasi belajar bahasa yang menyelipkan kosakata dalam audio latar—dapat membangun kepercayaan yang sangat kuat. Kuncinya adalah transparansi radikal dan memberikan kendali penuh kepada pengguna.

Teknologi subliminal adalah pedang bermata dua. Ia dapat menjadi alat untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidup, atau menjadi instrumen manipulasi terselubung yang paling halus. Masa depan yang kita inginkan bergantung pada keputusan etika yang dibuat oleh desainer dan founder hari ini.


Sumber Bacaan:

  1. Mark Weiser & John Seely Brown. (1996). The Coming Age of Calm Technologyhttps://calmtech.com/
  2. Neosensory. Sensory Augmentationhttps://neosensory.com/
  3. Journal of Business Ethics. (2021). The Ethics of Subliminal Persuasion in Digital Designhttps://link.springer.com/article/10.1007/s10551-021-04830-3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *