Pandemi COVID-19 mengajarkan pelajaran pahit namun berharga: ketergantungan pada impor vaksin adalah kerentanan strategis. Ketika dunia berebut dosis, negara-negara berkembang termasuk Indonesia berada di urutan paling akhir. Vaksin datang ketika gelombang pertama dan kedua telah berlalu, ketika jutaan nyawa telah melayang. Kini, setelah pandemi mereda, godaan untuk “kembali normal” sangat besar. Anggaran riset dipotong, laboratorium BSL-3 tidak terpakai, para peneliti kembali ke proyek-proyek lama. Ini adalah kesalahan yang tidak boleh diulang. Teknologi vaksin berbasis asam nukleat (mRNA dan DNA) telah terbukti menjadi platform tercepat dalam merespons patogen baru. Kemampuannya untuk dirancang hanya dalam hitungan jam setelah sekuens genetik virus dipublikasikan adalah lompatan revolusioner. Namun, platform ini sangat kompleks dan membutuhkan investasi jangka panjang. Indonesia tidak bisa membangunnya dalam 6 bulan saat pandemi; ia harus dibangun sekarang, di masa damai.
Visi Indonesia mRNA Vaccine Initiative (IMVI) adalah membangun ekosistem riset, pengembangan, dan produksi vaksin berbasis mRNA yang sepenuhnya mandiri dan terintegrasi secara vertikal.
Komponen 1: Desain dan Skrining Antigen (Hulu). Langkah pertama dalam pengembangan vaksin mRNA adalah mendesain sekuens antigen yang paling imunogenik. Ini adalah ranah bioinformatika struktural. Kelompok riset di ITB, UI, dan UGM telah memiliki kapasitas untuk memodelkan struktur protein virus, memprediksi epitop, dan merancang sekuens mRNA yang dioptimalkan untuk stabilitas dan ekspresi. Fasilitas IMVI menyediakan server komputasi kinerja tinggi yang khusus dikonfigurasi untuk simulasi dinamika molekuler protein dan RNA. Dengan fasilitas ini, Indonesia dapat merancang kandidat vaksin untuk 10-20 patogen prioritas (flu burung, Nipah, demam berdarah, rabies, dan “Pathogen X” yang belum diketahui) dan menyimpannya di perpustakaan digital yang siap diproduksi kapan saja.
Komponen 2: Sintesis mRNA Skala Laboratorium. Setelah desain selesai, sekuens mRNA harus disintesis secara kimiawi melalui proses in vitro transcription (IVT) . Ini membutuhkan enzim (RNA polimerase) dan nukleotida termodifikasi berkualitas tinggi yang selama ini harus diimpor. IMVI membangun fasilitas sintesis mRNA skala laboratorium yang mampu memproduksi puluhan gram mRNA per bulan—cukup untuk riset dan uji praklinis. Fasilitas ini juga akan mengembangkan kemampuan rekayasa enzim untuk memproduksi reagen IVT secara mandiri.
Komponen 3: Formulasi Lipid Nanoparticle (LNP). Tantangan terbesar vaksin mRNA adalah pengiriman (delivery) . Molekul mRNA sangat rapuh dan mudah dihancurkan enzim dalam tubuh. Ia harus dikemas dalam partikel lemak berukuran nano (lipid nanoparticle/LNP) untuk melindunginya dan mengantarkannya ke dalam sel. Formulasi LNP adalah rahasia dagang paling dijaga oleh perusahaan seperti Moderna dan BioNTech. IMVI harus mengembangkan formulasi LNP sendiri dengan komposisi lipid yang berbeda (dan tidak melanggar paten) namun tetap efisien. Ini adalah tantangan besar yang membutuhkan keahlian di bidang kimia lipid, mikrofluidika, dan karakterisasi nanopartikel.
Komponen 4: Produksi Skala Pilot dan Industri. Setelah formulasi terbukti pada skala laboratorium, teknologi harus ditingkatkan skalanya (scale-up) . IMVI bermitra dengan Bio Farma untuk membangun fasilitas produksi vaksin mRNA modular yang dapat diaktivasi dalam waktu 3-6 bulan. Fasilitas ini dirancang dengan prinsip single-use bioreactor untuk meminimalkan risiko kontaminasi silang dan mempercepat pergantian produk. Kapasitas awal ditargetkan 10-20 juta dosis per tahun, dengan opsi ekspansi cepat hingga 100 juta dosis dalam keadaan darurat.
Komponen 5: Uji Praklinis dan Klinis. Vaksin yang diproduksi harus melalui serangkaian uji keamanan dan efikasi. IMVI membangun jejaring fasilitas animal facility BSL-3 di beberapa universitas untuk uji tantang (challenge test) pada hewan model. Untuk uji klinis fase 1, 2, dan 3, IMVI bekerja sama dengan jejaring penelitian klinis yang tersebar di rumah sakit-rumah sakit pendidikan di Indonesia. Jejaring ini telah terbentuk selama pandemi COVID-19 dan harus diperkuat untuk keberlanjutan jangka panjang.
Komponen 6: Regulasi dan Kekayaan Intelektual. Vaksin mRNA adalah produk biologis baru yang memerlukan jalur regulasi yang belum sepenuhnya matang di BPOM. IMVI secara proaktif terlibat dalam dialog kebijakan dengan BPOM untuk mengembangkan kerangka evaluasi keamanan dan mutu yang sesuai dengan karakteristik platform mRNA. Pada saat yang sama, IMVI juga membangun portofolio paten untuk desain antigen, formulasi LNP, dan metode produksi yang dikembangkan di dalam negeri. Paten ini bukan untuk memonopoli, tetapi untuk posisi tawar dalam lisensi silang dengan perusahaan farmasi global.
Pendanaan dan Keberlanjutan. Model pendanaan IMVI tidak boleh bergantung sepenuhnya pada APBN yang fluktuatif. Pendanaan awal (5 tahun pertama) berasal dari skema public-private partnership: pemerintah menyediakan hibah riset dan fasilitas publik, sementara swasta (Bio Farma, Kalbe Farma, dll) menyediakan pendanaan untuk pengembangan produk yang lebih aplikatif. Setelah 5 tahun, diharapkan beberapa produk vaksin telah mencapai uji klinis dan dapat dilisensikan, menciptakan aliran pendapatan untuk mendanai riset selanjutnya.
Dampak IMVI bersifat eksistensial. Dampak langsung: kesiapsiagaan menghadapi pandemi berikutnya. Ketika “Pathogen X” muncul, Indonesia tidak perlu mengantre. Dalam 100 hari, kita dapat memiliki kandidat vaksin sendiri yang siap diuji. Dampak jangka menengah: penguasaan teknologi platform yang dapat diterapkan untuk penyakit non-pandemi. Platform mRNA dapat digunakan untuk vaksin kanker personal, terapi penggantian protein, atau pengobatan penyakit genetik langka. Ini adalah industri masa depan dengan nilai ekonomi triliunan rupiah. Dampak jangka panjang: kedaulatan kesehatan yang sesungguhnya. Ketika sebuah negara mampu merancang, menguji, memproduksi, dan mendistribusikan vaksinnya sendiri, negara itu telah mencapai tingkat kemandirian yang tidak dapat direbut oleh siapa pun. IMVI adalah proyek peradaban, sama pentingnya dengan pembangunan PLTN atau rudal balistik. Perbedaannya, alih-alih menghancurkan, ia melindungi kehidupan.