Museum Tanpa Dinding: Pengembangan Jaringan Museum Virtual Nusantara Berbasis Teknologi Fotogrametri Skala Besar dan Antarmuka Web 3D untuk Mendigitalisasi, Melestarikan, dan Membagikan Koleksi Artefak, Manuskrip, dan Karya Seni dari 300+ Museum di Seluruh Indonesia kepada Dunia

Indonesia memiliki lebih dari 300 museum yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Di dalamnya tersimpan jutaan artefak, manuskrip kuno, dan karya seni yang merekam perjalanan bangsa selama ribuan tahun. Namun, sebagian besar museum ini sepi pengunjung. Museum Negeri Sumatera Utara mungkin memiliki koleksi prasasti Batak yang luar biasa, tetapi letaknya di Medan, jauh dari pusat pariwisata. Museum Bahari di Jakarta memiliki model kapal pinisi yang indah, tetapi bangunannya tua, pengap, dan tidak ramah anak. Akibatnya, warisan budaya yang sangat berharga ini tersembunyi, hanya diakses oleh segelintir peneliti dan siswa yang kebetulan melakukan kunjungan studi. Di era digital, ketidakterlihatan ini adalah bentuk kepunahan diam-diam. Jika generasi muda tidak pernah melihat, menyentuh, atau mengalami warisan budaya mereka, mereka tidak akan peduli ketika warisan itu dihancurkan atau dijual ke kolektor asing.

Visi Proyek MUSEUM-NUSANTARA adalah membangun jaringan museum virtual 3D yang menghubungkan koleksi dari seluruh museum Indonesia ke dalam satu platform web yang dapat diakses secara gratis oleh siapa pun, di mana pun, kapan pun.

Komponen 1: Digitalisasi Massal dengan Fotogrametri Skala Industri. Digitalisasi 3D artefak secara individual dengan laser scanner sangat lambat dan mahal (1-2 jam per objek). Untuk 1 juta artefak, ini tidak mungkin. Proyek ini mengadopsi pendekatan fotogrametri cepat (rapid photogrammetry) yang dikembangkan untuk e-commerce:

  • Stasiun pemotretan otomatis: artefak diletakkan di atas meja putar yang terkontrol, dikelilingi oleh 50-100 kamera resolusi tinggi dalam susunan dome. Satu siklus pemotretan (360 derajat, 5 sudut elevasi) memakan waktu 30-60 detik, menghasilkan 200-300 foto.
  • Perangkat lunak rekonstruksi 3D berbasis cloud computing. Foto-foto diunggah ke server, dan dalam waktu 30-60 menit, model 3D dengan tekstur resolusi tinggi siap.
  • Untuk artefak yang sangat besar (candi, patung raksasa, bangunan bersejarah), digunakan drone fotogrametri dengan jalur terbang otomatis.

Tim digitalisasi bergerak dari satu museum ke museum lain, seperti “tour bus digitalisasi”, dengan target 5.000-10.000 objek per bulan.

Komponen 2: Platform Web 3D dan Antarmuka Pengguna. Model 3D yang dihasilkan tidak bisa hanya ditampilkan sebagai gambar; harus dapat dijelajahi. Proyek ini mengembangkan platform web berbasis WebGL/WebGPU yang memungkinkan pengunjung virtual untuk:

  • Memutar, memperbesar, dan “memegang” artefak di layar ponsel atau laptop mereka.
  • Melihat artefak dalam konteks aslinya: prasasti tidak hanya sendirian, tetapi ditempatkan di rekonstruksi 3D candi tempat ia ditemukan.
  • Membaca label dan narasi dalam berbagai bahasa (Indonesia, Inggris, Mandarin, Arab).
  • Membuat tur virtual pribadi: pengunjung dapat memilih 10 artefak favorit dari 10 museum berbeda, dan platform akan menggabungkannya menjadi satu tur kohesif.

Komponen 3: Gamifikasi dan Keterlibatan Publik. Museum virtual tidak akan dikunjungi jika hanya berupa rak digital yang membosankan. MUSEUM-NUSANTARA mengintegrasikan elemen gamifikasi:

  • Misi dan tantangan: “Temukan 5 arca Ganesha dari era Singhasari dan pelajari perbedaan gayanya.” Pengunjung yang menyelesaikan misi mendapatkan lencana digital yang dapat dibagikan di media sosial.
  • Konten buatan pengguna: pengunjung dapat membuat tur mereka sendiri, menambahkan komentar, dan membagikannya. Guru dapat membuat tur untuk siswanya, dengan pertanyaan di setiap titik.
  • Kolaborasi dengan kreator konten: YouTuber dan TikToker edukasi diundang untuk membuat seri konten yang mengeksplorasi koleksi digital.

Komponen 4: Pelestarian dan Akses untuk Penelitian. Platform ini bukan hanya untuk publik; ia juga laboratorium riset. Fitur-fitur untuk akademisi meliputi:

  • Pengukuran 3D: peneliti dapat mengukur dimensi artefak langsung dari browser, tanpa perlu mengunjungi museum.
  • Perbandingan berjejer: dua artefak dari museum berbeda dapat ditempatkan berdampingan di layar yang sama untuk analisis komparatif.
  • Unduh model: untuk keperluan non-komersial (penelitian, pendidikan), model 3D resolusi sedang dapat diunduh dalam format universal (OBJ, GLTF).

Dampak MUSEUM-NUSANTARA bersifat demokratisasi dan preservasi. Dampak akses: seorang siswa di Fakfak, Papua Barat, yang tidak pernah naik pesawat, dapat “mengunjungi” Museum Nasional di Jakarta, Museum Affandi di Yogyakarta, dan Museum Tsunami di Aceh dalam satu sore. Dampak preservasi: ketika museum fisik rusak akibat gempa, kebakaran, atau konflik, koleksinya tidak hilang selamanya. Replika digitalnya tetap ada. Dampak ekonomi: museum virtual menjadi etalase global yang mempromosikan pariwisata Indonesia. Seorang turis asing yang terkesima dengan keindahan arca Prajnaparamita dalam tur virtual mungkin akan merencanakan perjalanan nyata ke Jakarta. Dampak kebanggaan nasional: untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki katalog warisan budaya digital yang dapat dibanggakan di forum internasional. MUSEUM-NUSANTARA adalah perpustakaan Alexandria digital Indonesia, kecuali yang ini tidak akan terbakar.