Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya mengalami krisis air kronis. Setiap musim kemarau, ribuan warga berjalan kilometer untuk mengambil air dari sumur yang semakin dangkal. Ibu-ibu menghabiskan 4-6 jam sehari hanya untuk air. Anak-anak putus sekolah karena harus membantu orang tua. Pemerintah telah mengirim bantuan air tangki, kapal air, dan membangun embung, tetapi solusi ini tidak berkelanjutan. Air tangki mahal dan tergantung pada ketersediaan BBM. Embung menguap cepat di musim kemarau. Sumber air tanah di pulau-pulau kecil sangat terbatas dan rentan terhadap intrusi air laut. Sementara itu, di atas kepala kita, udara mengandung 12-16 gram air per meter kubik. Air ini tersedia di mana-mana, gratis, dan tidak terbatas. Teknologi Atmospheric Water Generator (AWG) yang mendinginkan udara hingga titik embun dan mengembunkannya menjadi air telah ada, tetapi konsumsi energinya sangat tinggi. Untuk menghasilkan 1 liter air, AWG konvensional membutuhkan 300-600 Wh listrik—tidak cocok untuk daerah tanpa jaringan listrik yang andal.
Visi Proyek AIR-UDARA adalah mengembangkan AWG skala komunitas yang sangat efisien, ditenagai sepenuhnya oleh energi surya, dan mampu menghasilkan 1.000-5.000 liter air per hari, cukup untuk 200-1.000 jiwa.
Komponen 1: Siklus Pendinginan Ultra-Efisien. Proyek AIR-UDARA tidak menggunakan kompresor konvensional (seperti AC). Sebagai gantinya, ia mengembangkan sistem pendinginan adsorpsi:
- Material adsorben (silica gel, zeolit, atau MOF) menyerap uap air dari udara pada malam hari saat kelembaban tinggi.
- Pada siang hari, panel surya termal memanaskan material adsorben, melepaskan uap air yang telah terperangkap.
- Uap air diembunkan dalam kondensor berpendingin udara.
Siklus ini tidak membutuhkan listrik sama sekali untuk kompresi; hanya untuk kipas dan pompa kecil (dari panel surya). Konsumsi energi per liter air dapat ditekan hingga 50-100 Wh.
Komponen 2: Skala Komunitas dan Desain Terdesentralisasi. AIR-UDARA tidak dirancang sebagai produk konsumen (1-10 liter/hari), tetapi sebagai infrastruktur desa. Satu unit terdiri dari:
- Bidang kolektor surya termal seluas 50-100 m² (dapat dipasang di atap sekolah atau balai desa).
- Modul adsorpsi berisi 1-2 ton material adsorben.
- Tangki penyimpanan air 10-20 m³ dari bahan food-grade.
- Sistem distribusi dengan keran umum di 5-10 titik.
Komponen 3: Integrasi dengan Pemanenan Air Hujan. AWG tidak dimaksudkan untuk menggantikan air hujan, tetapi melengkapinya. AIR-UDARA mengembangkan sistem manajemen air terpadu:
- Musim hujan: air hujan ditampung di tangki dan embung.
- Musim kemarau: AWG beroperasi penuh, memproduksi air dari kelembaban udara.
- Sensor ketinggian air di tangki dan prediksi cuaca (musim kemarau diperkirakan panjang) akan secara otomatis mengaktifkan AWG lebih awal.
Komponen 4: Model Bisnis Berbasis Langganan (Water-as-a-Service). AIR-UDARA tidak dijual sebagai mesin. Ia dioperasikan oleh BUMDes atau koperasi air dengan model berlangganan:
- Setiap rumah tangga membayar iuran bulanan Rp 20.000-50.000 untuk akses tidak terbatas ke air bersih (jauh lebih murah dari air tangki).
- Pendapatan digunakan untuk perawatan, penggantian material adsorben (setiap 5-10 tahun), dan tabungan untuk investasi unit baru.
Dampak AIR-UDARA bersifat kemanusiaan dan ekologis. Dampak langsung: 1 juta penduduk pesisir dan pulau kecil mendapatkan akses air bersih yang berkelanjutan. Dampak sosial: perempuan dan anak-anak tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil air; mereka dapat bersekolah, bekerja, dan meningkatkan kualitas hidup. Dampak ekonomi: desa tidak perlu mengalokasikan anggaran besar untuk membeli air tangki setiap musim kemarau. Dampak lingkungan: mengurangi pengambilan air tanah yang berlebihan dan mencegah intrusi air laut. AIR-UDARA adalah hikmat dari padang gurun, mengubah kutukan kemarau menjadi berkah dari langit.