Setiap kali bencana besar melanda Indonesia—gempa Lombok, tsunami Palu, banjir Jakarta, erupsi Semeru, banjir bandang Sumbar—masalah yang sama selalu muncul: logistik. Bantuan datang terlambat. Bantuan menumpuk di satu titik, sementara titik lain kosong. Bantuan tidak sesuai kebutuhan (mi instan, selimut, tenda, obat-obatan). Bantuan rusak di perjalanan karena hujan atau panas. Koordinasi antar lembaga kacau. TNI, BNPB, Kemensos, PMI, dan relawan masing-masing bergerak sendiri-sendiri, tidak ada komando tunggal, tidak ada sistem informasi bersama. Akibatnya, korban selamat yang selamat dari gempa dan tsunami seringkali meninggal di pengungsian karena kelaparan, kehausan, atau infeksi.
Visi Proyek LOGISTIK-TANGGUH adalah mengembangkan sistem manajemen rantai pasok bencana nasional yang terintegrasi, berbasis kecerdasan buatan, untuk memastikan bahwa bantuan yang tepat, dalam jumlah yang tepat, sampai ke lokasi yang tepat, pada waktu yang tepat.
Komponen 1: Model Prediksi Kebutuhan Bantuan Real-Time. LOGISTIK-TANGGUH mengembangkan algoritma prediksi yang secara otomatis memperkirakan kebutuhan logistik berdasarkan:
- Jenis dan skala bencana (gempa, tsunami, banjir, erupsi, longsor).
- Luas area terdampak dan jumlah penduduk terpapar.
- Kerusakan infrastruktur (jalan, jembatan, bandara, pelabuhan).
- Data historis bencana serupa.
Dalam 30 menit setelah bencana, sistem menghasilkan daftar kebutuhan (bill of materials): berapa ton beras, berapa liter air bersih, berapa tenda, berapa selimut, berapa obat-obatan, berapa kantong jenazah.
Komponen 2: Optimalisasi Penempatan Stok Nasional (Pre-Positioning). Selama ini, stok logistik bencana tersebar tidak merata. Gudang BNPB di Jakarta penuh, sementara gudang di Jayapura kosong. LOGISTIK-TANGGUH mengembangkan model optimasi untuk menentukan:
- Lokasi ideal gudang logistik bencana (berdasarkan peta kerawanan bencana).
- Jumlah dan jenis stok yang harus disimpan di setiap gudang.
- Jadwal rotasi stok agar tidak kedaluwarsa.
Komponen 3: Platform Koordinasi Multi-Lembaga Real-Time. LOGISTIK-TANGGUH mengembangkan sistem informasi bersama yang dapat diakses oleh semua lembaga terkait (BNPB, TNI, POLRI, Kemensos, PMI, Kemenkes, Basarnas):
- Peta stok: lokasi dan jumlah stok di setiap gudang.
- Peta kebutuhan: lokasi dan jumlah pengungsi, fasilitas kesehatan, titik distribusi.
- Peta pengiriman: status pengiriman (dalam perjalanan, tiba, terdistribusi).
- Peta kesenjangan: selisih antara kebutuhan dan stok yang tersedia.
Komponen 4: Sistem Manajemen Rantai Pasok Adaptif. Ketika bencana terjadi, rantai pasok normal terganggu. Jalan putus, jembatan runtuh, bandara ditutup. LOGISTIK-TANGGUH mengembangkan sistem perutean adaptif yang:
- Mengintegrasikan data kerusakan infrastruktur real-time dari BNPB dan Kementerian PUPR.
- Menghitung rute alternatif (jalur laut, udara, atau darat memutar).
- Merekomendasikan moda transportasi optimal (truk, kapal, helikopter, pesawat kargo).
Dampak LOGISTIK-TANGGUH bersifat penyelamatan nyawa dan efisiensi. Dampak kemanusiaan: korban bencana tidak lagi menunggu bantuan berhari-hari. Setiap jam keterlambatan berarti nyawa. Dampak efisiensi: mengurangi pemborosan anggaran untuk pengadaan bantuan yang tidak terencana dan tidak tepat sasaran. Dampak koordinasi: mengakhiri ego-sektoral antar lembaga dalam penanganan bencana. Dampak akuntabilitas: setiap karung beras dan setiap tenda dapat dilacak dari gudang hingga ke tangan korban. LOGISTIK-TANGGUH adalah urat nadi tanggap darurat Indonesia, memastikan bahwa darah bantuan mengalir deras ke setiap sel yang membutuhkan.