Air minum yang aman adalah hak dasar manusia. Namun, jutaan penduduk Indonesia masih mengonsumsi air yang belum terjamin keamanannya. PDAM di kota-kota besar hanya melayani 20-40% penduduk; sisanya mengandalkan air sumur, air isi ulang, atau air kemasan. Bagi pelanggan PDAM, kualitas air seringkali tidak konsisten. Kadang keruh, kadang berbau kaporit, kadang tidak mengalir sama sekali. Lebih kritis lagi, sistem distribusi PDAM sangat rentan terhadap kontaminasi. Pipa bocor, sambungan liar, dan intrusi air tanah dapat mencemari air yang telah diolah. Diperlukan sistem pemantauan kualitas air real-time yang mampu mendeteksi kontaminasi mikrobiologis dan kimia secara cepat, sebelum air sampai ke konsumen.
Visi Proyek AIR-AMAN adalah mengembangkan jaringan sensor kualitas air real-time yang dipasang di:
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM (outlet).
- Reservoir distribusi.
- Titik-titik kritis di jaringan perpipaan (ujung, percabangan, tekanan rendah).
- Unit air isi ulang depot.
Komponen 1: Sensor Fisik dan Kimia Real-Time. AIR-AMAN mengembangkan stasiun pemantauan dengan sensor:
- Parameter fisik: kekeruhan, warna, suhu, konduktivitas, TDS.
- Parameter kimia: pH, klorin bebas, kloramin, amonia, nitrat, nitrit, besi, mangan, fluorida.
- Komunikasi: GSM/GPRS atau LoRaWAN (untuk daerah tanpa sinyal).
Komponen 2: Sensor Mikrobiologi Cepat (Rapid Microbial Detection). Tantangan terbesar pemantauan air minum adalah deteksi bakteri patogen. Metode konvensional (pembiakan) memakan waktu 24-48 jam. AIR-AMAN mengembangkan biosensor cepat yang mampu mendeteksi:
- E. coli dan Coliform tinja (indikator kontaminasi tinja).
- Total bakteri (heterotrophic plate count).
- Patogen spesifik (Salmonella, Vibrio cholerae, Cryptosporidium, Giardia) jika diperlukan.
Waktu deteksi: 1-4 jam, bukan 24-48 jam.
Komponen 3: Sistem Peringatan Dini dan Manajemen Risiko. Data dari sensor real-time diintegrasikan dengan:
- Sistem informasi geografis (GIS) jaringan pipa.
- Data tekanan dan aliran untuk mendeteksi kebocoran.
- Model hidrolika untuk memprediksi penyebaran kontaminan.
Peringatan bertingkat:
- Level 1 (Awas) : parameter mendekati baku mutu. Operator IPA diminta menyesuaikan dosis klorin/koagulan.
- Level 2 (Siaga) : parameter melampaui baku mutu. Sistem merekomendasikan pengurasan reservoir, pembilasan pipa.
- Level 3 (Bahaya) : terdeteksi kontaminasi tinja atau senyawa beracun. Sistem secara otomatis menutup katup, mengalihkan aliran, dan mengirim peringatan ke konsumen: “Jangan minum air PDAM sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.”
Komponen 4: Manajemen Kehilangan Air (Non-Revenue Water). AIR-AMAN juga berfungsi sebagai sistem deteksi kebocoran:
- District Metered Area (DMA) : membagi jaringan menjadi zona-zona kecil yang dipantau aliran dan tekanannya.
- Analisis aliran malam hari (minimum night flow) untuk mengestimasi kebocoran.
- Akustik sensor untuk lokalisasi titik bocor.
Dampak AIR-AMAN bersifat kesehatan, efisiensi, dan kepercayaan. Dampak kesehatan: menurunkan risiko penyakit bawaan air (diare, tifoid, kolera) yang masih menjadi penyebab utama kematian balita. Dampak efisiensi: PDAM dapat mengurangi kehilangan air (non-revenue water) dari rata-rata 30-40% menjadi di bawah 20%. Dampak kepercayaan: pelanggan PDAM tidak perlu ragu dengan kualitas air yang mengalir dari kran rumah mereka. Dampak operasional: operator IPA tidak lagi bekerja secara reaktif (menunggu keluhan pelanggan), tetapi proaktif. AIR-AMAN adalah pengawas diam yang memastikan bahwa setiap tetes air yang dikirim PDAM ke rumah-rumah penduduk adalah aman, jernih, dan layak minum.