Biji alpukat selama ini hanya menjadi limbah, padahal mengandung senyawa fenolik dan flavonoid dengan aktivitas antioksidan tinggi, bahkan lebih tinggi dari daging buahnya. Riset di Institut Pertanian Bogor mengembangkan tepung biji alpukat sebagai bahan pangan fungsional. Biji alpukat dikupas, diiris tipis, direndam dalam larutan garam atau asam sitrat untuk mencegah pencoklatan, dikeringkan, dan digiling. Analisis fitokimia menunjukkan tepung biji alpukat mengandung total fenol 45-55 mg GAE/g dan aktivitas antioksidan (IC50) 50-70 ppm. Tepung ini kemudian disubstitusikan pada cookies sebanyak 10-20 persen. Cookies yang dihasilkan memiliki warna kecoklatan, rasa agak pahit khas, dan aktivitas antioksidan signifikan. Produk ini tidak hanya memanfaatkan limbah tetapi juga memberikan nilai tambah sebagai camilan fungsional kaya antioksidan.
Related Posts
Membandingkan mRNA Therapeutics dan Wearable Diagnostics: Panduan Memilih 2026-2027
- admin
- Februari 18, 2026
- 5 min read
- 0
mRNA Therapeutics atau AI Drug Discovery: Analisis Lengkap 2026-2027
- admin
- Februari 18, 2026
- 5 min read
- 0
Augmented Reality sebagai Media Konservasi: Melihat Masa Lalu dan Masa Depan di Tempat yang Sama
- admin
- Januari 28, 2026
- 4 min read
- 0