Purwakarta, Jawa Barat – Waduk Jatiluhur adalah waduk terbesar di Indonesia, seluas 8.300 hektar. Namun setiap tahun, miliaran liter air menguap karena terik matahari. Di 2026, PLN bersama perusahaan energi asal Singapura, Sunseap, membangun floating vertical solar farm pertama di Asia Tenggara. Tidak seperti panel surya mengapung biasa yang datar, sistem ini menggunakan panel vertikal ganda (bisa menangkap sinar matahari dari timur dan barat) yang dipasang di atas ponton.
Mengapa vertikal? Panel vertikal memiliki keuntungan: (1) produksi listrik lebih merata sepanjang hari karena panel menghadap timur dan barat, (2) panel vertikal berfungsi sebagai “atap” yang menaungi permukaan air, mengurangi penguapan hingga 40%, dan (3) sirkulasi udara di bawah panel mendinginkan panel (efisiensi naik 15% dibanding panel datar). Total luas area yang tertutup panel adalah 200 hektar (2,4% dari luas waduk), menghasilkan 200 MW peak — cukup untuk listrik 150.000 rumah.
“Sebelum ada panel vertikal, permukaan waduk kehilangan 3 mm air per hari karena penguapan. Setelah panel dipasang, penguapan turun menjadi 1,8 mm per hari. Itu berarti kami menyelamatkan 1,2 miliar liter air per tahun. Airnya bisa digunakan untuk irigasi dan air minum,” jelas Kepala BBWS Citarum. Panel vertikal juga tidak mengganggu ekosistem perairan karena masih ada celah cahaya untuk fitoplankton, dan ikan bisa berenang di bawah ponton.
Tantangannya adalah biaya konstruksi: Rp 4 triliun untuk 200 MW, lebih mahal dari panel surya darat (Rp 3 triliun). Namun karena tidak perlu membeli lahan (waduk milik negara gratis), dan ada manfaat tambahan penghematan air, proyek ini layak secara ekonomi. Juga, perlu perawatan rutin untuk membersihkan lumut di panel. Namun dengan robot pembersih otomatis, biaya perawatan minimal. Ke depannya, floating vertical solar farm akan dibangun di Waduk Saguling, Cirata, dan Danau Toba. Karena air dan matahari adalah dua sumber daya melimpah Indonesia yang selama ini tidak dimanfaatkan bersama.